Hari-Hari Seorang Murabbi

08.21 / Diposting oleh untung wahyudi / komentar (0)

Dua bulan lagi aku lulus dari Al-Mukmin. Pesantren tempatku belajar sejak pertengahan tahun 1996 silam. Alhamdulillah akhirnya aku bisa menyelesaikan study-ku sampai SMA. Dulu aku hampir berhenti dari pesantren ini. Bapak yang hanya seorang petani sudah hampir tidak bisa membiayai pendidikanku. Sejak krisis moneter melanda negeri ini sekitar tahun 1998, Bapak hampir kehilangan kemampuan untuk membayar SPP dan biaya hidupku di pesantren. Aku hanya mampu berdoa semoga Allah memberikan Bapak kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini. Aku nggak bisa membayangkan bagaimana seandainya aku benar-benar putus sekolah.

Waktu itu aku kelas 3 SMP. Hampir semua sembako dan alat-alat kebutuhan sekolah melonjak naik. Tapi alhamdulillah, berkat doa, kegigihan dan kesabaran Bapak dalam mencari nafkah akhirnya sampai detik ini aku bisa menyelesaikan pendidikanku. Aku bersujud, bersyukur kepada-Nya. Betapa aku dulu hampir putus asa dan nyaris menyalahkan takdir dan suratan Ilahi. Dulu aku pernah merutuk diri, kenapa terlahir sebagai orang miskin, serba kekurangan dan orang tuaku selalu hidup dalam kemelaratan. Padahal kalau aku melihat sebagian teman-temanku di pesantren, mereka dengan mudah membeli apa saja yang mereka suka. Mereka tinggal kirim surat dan nelepon saat stok kiriman di pesantren menipis. Tapi sekali lagi aku bersyukur atas nikmat dan karuni Allah yang sangat besar ini.

Tapi kini, kebingungan dan kegamangan hati itu datang lagi. Saat teman-teman sekelas bersemangat untuk melanjutkan pendidikan mereka ke Universitas aku hanya mampu berdecak kagum melihat kegembiraan mereka. Siapa yang tidak ingin kuliah? Siapa yang tidak ingin menikmati manisnya duduk di bangku Universitas? Aku yakin semua orang mengimpikannya, menginginkannya. Termasuk aku. Tapi kalau melihat kondisi ekonomi orang tua sekarang apakah mungkin?

Memang aku terlahir sebagai bungsu, yang kata orang anak bungsu itu selalu dituruti keinginannya. Tapi bukan berarti aku harus memaksa orang tua untuk tetap ngotot mau kuliah. Rasanya untuk ke sana aku harus berpikir sepuluh atau seratus kali. Semestinya aku harus mensyukuri keadaan ini. Karena hanya aku lah di antara kakak-kakakku yang bisa mengenyam pendidikan sampai tingkat SMA. Kakak-kakakku sudah berkeluarga semua. Walau mereka harus puas sampai bangku Sekolah Dasar. Kakak-kakakku tidak ada yang melanjutkan sekolah. Saat seusiaku dulu mereka sudah akrab dengan cangkul, sabit dan alat-alat pertanian yang lain. Dalam usia yang sangat muda mereka dengan senang hati membantu Bapak dan Ibu. Nyabit rumput untuk pakan sapi yang digembala Bapak bahkan ikut tetangga sebagai kuli bangunan.

Kakak sulungku yang laki-laki bahkan sudah menikah saat umurnya masih duapuluh tahun. Dan dalam usia duapuluh dua dia sudah menimang seorang anak. Sehingga bertambahlah beban kakakku itu dengan kehadiran si buah hatinya. Sedih rasanya mengenang perjalanan mereka yang sangat susah. Dalam usia muda mereka sudah berusaha bekerja, menjadi kuli sebagai buruh tani demi sesuap nasi. Ya Allah, berkahilah pekerjaan mereka. Semoga mereka tercatat sebagai anak yang birrulwalidain di hadapan-Mu.

Awal Juni 2002

Tadi malam sehabis Isya’ semua kelas akhir yang akan lulus dipanggil Pimpinan pesantren, Dy. Ada pengisian angket dan tajuk rencana kami setelah lulus dari pesantren ini. Bagi teman-teman yang mampu mereka pasti memilih kuliah sebagai pilihan mereka. Tapi bagi yang kurang mampu, maka mereka akan memilih mengabdi di pesantren. Baik di dalam atau di luar pesantren ini. Aku sendiri, setelah berulangkali istikharah akhirnya memilih mengabdi sebagai alternatif terakhir.

“Kamu mau ngabdi di mana, Yud?” tanya Rozy, salah seorang teman akrabku yang setelah lulus nanti akan kuliah ke Jakarta. Ia ingin ikut SPMB dan berobsesi untuk masuk Psikologi UI.

“Pasti ngabdi di dalam.” Seru Tikno, temanku yang suka ngocol itu. Tikno adalah satu di antara sekian temanku yang bikin suasana cair. Tak jarang ia suka membuat kami tertawa terpingkal-pingkal oleh banyolannya.

“Aku nggak milih di mana-mana. Yang penting mengabdi. Kalo aku memilih di dalam, aku khawatir dibilang ‘muluk-muluk’ dan terlalu PD. Karena aku tidak sepandai guru-guru yang ada di dalam.” Ujarku sembari menyerahkan lembaran angket ke Ustadz Suryadi, wali kelas kami.

“Kok nggak milih di dalam aja, Yud? Di sini fasilitasnya kan lengkap. Di sini sudah ada komputer yang bisa ngebantu aktifitas menulismu.” Adi mengeluarkan argumen. Aku hanya tersenyum.

Dalam urusan tempat pengabdian, memang pihak pesantren lah yang menentukan. Makanya aku nggak menentukan tempat. Di taruh di dalam, insya Allah aku akan berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan di sini. Di tempatkan di luar, kupikir juga oke. No problem. Itung-itung nyari pengalaman baru di luar sono. Ah, betapa hidup di pesantren sangat menyenangkan. Di tempat inilah aku banyak menempa berbagai disiplin ilmu. Agama, umum dan yang lainnya. Rasaya baru kemarin kami tinggal di sini.

30 Juni 2002

Aku masih nggak percaya, Dy dengan keputusan Pimpinan Pesantren. Aku ternyata terpilih untuk mengabdi di pesantren ini bersama enam teman sekelasku. Ya, aku nggak mau milih-milih, Dy. Ini adalah pengalaman pertamaku mengajar, menjadi seorang pendidik yang mampu mengayomi para santri dengan baik dan penuh kesabaran. Semoga saja aku diberikan kesabaran juga kekuatan dalam mengemban amanah besar ini.

15 Juli 2002

Hari ini hari pertamaku mengajar di depan para santri, Dy. Di depan murid-murid yang memiliki bermacam karakter. Yang rajin, yang nakal, yang suka bolos dan seabrek tingkah laku santri yang memerlukan ekstra kesabaran.

Aku baru tahu dan sadar, beginilah susahnya jadi seorang Murabbi. Dulu saat jadi santri, aku juga seperti mereka. Suka melanggar dan tak jarang membuat para pengurus pesantren kelabakan. Aku masih ingat, saat aku harus baca surat pernyataan di depan para santri gara-gara melanggar disiplin bagian keamanan, plus minta tanda tangan pada semua selebritis, eh Asatidz di pesantren. Benar-benar memalukan. Tapi itu dulu saat aku menginjak masa-masa transisi dari kanak-kanak ke masa remaja. Aku masih ingat, pada waktu itu aku merasakan ada pemberontakan-pemberontakan dalam hati dan sering aku lampiaskan untuk melanggar disiplin pesantren yang menurutku sangat otoriter itu. Tapi sekarang aku sadar, betapa pentingnya sebuah disiplin dalam kehidupan seseorang.

Pada kesempatan ini aku juga diberi tugas untuk menjadi wali kelas 3 SMP. Belum apa-apa aku sudah pusing bin puyeng duluan. Bayangkan, mengurusi anak-anak kelas 3 yang…?

Aku jadi ingat saat kelas 3, kami sekelas pernah menggugat seorang pengurus pesantren yang ketahuan punya hubungan dengan seseorang di pesantren ini. Tapi sungguh, bukan aku minder dengan tugas baru ini. Tapi menangani anak-anak kelas 3 yang “over kreatif” itu? Ah, moga-moga mereka nggak akan bikin ulah.

Awal Agustus 2002

Kekhawatiranku terjadi, Dy. Andi, salah seorang anak didikku di kelas 3 ketahuan punya hubungan dengan seorang santriwati. Surat cintanya yang romantis ketangkep bagian keamanaan saat ada pemeriksaan kotak. Aku selaku wali kelas bersama koordinator keamanan MPO (Majelis Pertimbangan Organisasi) harus menyelesaikan kasus ini.

Setelah melalui proses sidang yang cukup menegangkan, akhirnya aku panggil Andi ke kantor guru. Kulihat Andi hanya menunduk. Mungkin ia malu atau takut rambutnya yang lurus dan bagus itu dipangkas ala ABRI atau diplontos kayak punya Rohaye pemeran Kecil-kecil Jadi Manten itu.

“Kau mau kehilangan rambutmu, Andi?” tanyaku mulai menginterogasi. Kubuka kopiah di atas kepalanya seraya memegang-megang rambutnya yang agak panjang. Ia semakin gugup dan takut.

“Kamu kenapa?” tanyaku pura-pura tidak tahu.

“Sa… saya. Berhubungan dengan seorang santriwati, Ustadz.” Jawabnya gugup. Ia semakin menunduk.

“Kenapa kau masih nekad? Kau tahu kan disiplin pesantren ini. Boleh nggak pacaran di tempat ini?”

“Saya hanya iseng, Ustadz.” Jawabnya lagi. Santri lima belas tahunan di depanku itu terus menekuri lantai keramik yang ia tempati. Ia semakin menyembunyikan wajahnya yang kian kusut. Setelah kusampaikan beberapa wejangan dan peringatan, akhirnya kuperkenankan Andi keluar. Tentu setelah kusampaikan sanksi yang harus ia kerjakan.

Awal Januari 2003

Diary….

Ternyata jadi seorang pendidik itu nggak mudah. Rasanya aku harus banyak belajar memahami anak didik. Mereka yang mayoritas anak-anak sangat membutuhkan perhatian dan pengayoman yang mampu membuat mereka sadar dan berkembang. Berubah sesuai harapan orang tua mereka saat memasukkan anak-anaknya ke pesantren ini.

Capek juga ya, Dy mengawasi mereka selama dua puluh empat jam. Tapi ini tugas dan kewajiban yang harus aku lakukan. Aku hanya berharap apa yang aku dan rekan-rekan Asatidz berikan kepada mereka bisa bermanfaat. Dunia akhirat.

15 Januari 2003

Aku rindu dan kangen teman-temanku, Dy. Di mana mereka sekarang? Apa yang mereka lakukan di malam yang dingin dan hujan yang lebat ini? Pasti mereka senang jadi Mahasiswa, ya, Dy. Pasti mereka lagi asyik ngalor-ngidul bersama teman-teman baru mereka di kampus. Aduh, enak nggak ya Dy, jadi anak kampus itu…?

“Aku paham apa yang kamu pikirkan, Yud. Kamu pasti sedih karena belum bisa melanjutkan kuliah. Tapi jangan putus asa, Yud. Kalau kau berusaha dan berdoa insya Allah akan ada jalan terbaik untukmu.” Kata-kata Rozy yang selalu mendongkrak semangatku itu masih mengiang-ngiang di telingaku. Dialah teman sejatiku. Dialah yang selalu mensupport aku supaya mencari jalan lain menuju sukses. Menurutnya kuliah itu hanya formalitas. Kalau kita berusaha menggali kreatifitas, insya Allah akan ada jalan lain yang akan membawa kita ke tangga kesuksesan.

Pesan itulah yang sampai saat ini masih melekat dan hatiku. Ia yang selalu mendukung aktifitas menulisku saat aku keranjingan menulis saat kelas 2 SMA dulu.

“Tema ceritamu bagus. Cuman tema ini sudah umum. Cobalah untuk menggali tema yang lebih unik, modern dan Islami.” Begitu komentar Rozy saat membaca salah satu cerpenku di mading kelas dulu. Terima kasih, Zy. Semoga Allah selalu bersama langkahmu….

20 Januari 2003

Hobi menulisku terangsang lagi, Dy. Setelah sekian bulan vacum. Maklum, kegiatan dan tugas yang lumayan padat membuatku kurang membagi waktu. Padahal kalau memang punya tekad kuat, menulis itu bisa dilakukan pada malam hari. Saat suasana sunyi dan sepi. Tapi dasar aku yang memang sering bergantung pada mood dalam menulis. Aku lebih memilih tidur daripada menghayalkan sebuah cerita.

Tapi aku janji, Dy. Aku akan lebih rajin lagi menulis. Aku akan terus berlatih dan terus berlatih. Aku ingin sekali suatu saat karyaku bisa dimuat media massa dan dinikmati oleh masyarakat luas. Walau sampai detik ini tak satu pun karyaku yang kukirim ke media dimuat. Padahal kalau nggak salah itung, sudah hampir dua puluh karyaku yang kukirim ke media massa.

Tapi tak apa-apa, aku jadi ingat perjalanan kepenulisan Mas Joni Ariadinata, salah seorang pengarang favoritku yang tinggal di Yogya. Dulu sebelum menjadi sastrawan terkenal ia pernah bekerja sebagai penarik becak dan buruh pabrik. Tapi ia selalu menyempatkan diri untuk menulis di sela-sela kesibukan dan rasa penat yang merejam-rejam tubuhnya. Hingga pada suatu ketika, cerpen ‘Lampor’ karyanya mengantarkannya menjadi seorang cerpenis terbaik harian Kompas pada tahun 1994. Bayangkan, dari Abang Becak ke Sastrawan terkenal!

Sungguh, aku ingin meniru kegigihan dan semangat Mas Joni Ariadinata yang menurutku sangat luar biasa itu….

Akhir Maret 2003

Hadiah dari Allah itu….

Aku menangis, Dy. Bersyukur atas kebesaran Allah. Rasa tak percaya masih belum bisa kuhilangkan. Tapi ini bukan mimpi, Dy. Mungkin ini benar-benar hadiah dari Allah atas usahaku selama ini. Salah satu cerpenku yang kukirim sebulan yang lalu ke sebuah penerbit di Yogyakarta diterbitkan dalam sebuah Antologi Sastra Pesantren, Dy.

Tanganku gemetar saat membuka paket buku yang kuterima dari Pak Pos tadi siang. Subhanallah… Benar, Dy. Cerpenku ada di antara 17 cerpen karya para penulis lain yang hampir kesemuanya dari pesantren. Ya, Allah…. Maha suci Engkau atas segala nikmat dan karunia-Mu.

***

Sumenep, 31 Januari 2005

Ozy dan Rokok

08.19 / Diposting oleh untung wahyudi / komentar (0)

Siang yang muram di RSUD Sumenep. Aku duduk di samping tubuh Ozy yang dihiasi selang infus. Sesekali kuperhatikan tubuhnya yang kian menirus. Matanya yang cekung dan hampir satu jam tidak berkedip membuatku bergidik. Pelan perasaan bersalah berkelebat dalam pikiran. Sebagai salah seorang teman dekatnya aku merasa bersalah karena telah gagal menyadarkan kebiasaannya. Sebuah kebiasaan yang telah menyebabkan ia terbaring tak berdaya di tempat yang serba putih ini.

Semua penghuni Al-Azhar tahu siapa Ozy. Sifatnya yang pembangkang dan bengal membuatnya kian terkenal di seantero pesantren. Kebiasaannya melanggar disiplin pesantren telah menyebabkan namanya tercoreng tinta hitam. Cap santri pembangkang telah melekat pada dirinya.

Ia perokok berat. Bahkan baginya rokok adalah candu yang membuatnya ketagihan. Semenit saja tidak mengisap asap beracun itu ia tidak akan betah. Makanya ia yang paling sering melanggar disiplin dilarangnya merokok.

Pernah suatu ketika aku didera rasa bersalah dan gelisah saat memergoki Ozy merokok di kamar mandi saat semua penghuni pesantren tertidur pulas. Waktu itu tengah malam. Dentang bel di depan kantor pusat berbunyi dua belas kali. Saat itulah semua bulis malam bangun untuk menjaga keamanan. Aku baru saja hendak ke kamar mandi untuk membuang hajat saat kulihat Ozy keluar dari kamar mandi belakang asrama. Di genggamannya ada sebungkus rokok yang hendak dimasukkan ke kantong celananya. Aku buru-buru menghindar. Menyelinap di balik tembok asrama. Aku khawatir ia tahu kalau aku melihatnya.

Setelah kembali ke kamar tiba-tiba aku sangat sulit untuk memejamkan mata. Rasa kantuk yang semula menyerang tiba-tiba hilang setelah melihat apa yang dilakukan teman dekatku itu. Perasaan gelisah mulai muncul dalam benakku. Aku bingung. Apa aku harus melaporkan kejadian ini kepada keamanan? Atau aku harus tutup mulut, membiarkan pelanggaran demi pelanggaran merajalela di pesantren ini?

“Ozy itu teman dekatmu. Kalau kau melaporkan kejadian itu, berarti Ozy akan diberi sanksi lagi. Bahkan ia bisa-bisa diskorsing dari pesantren ini.”

“Tapi ini masalah disiplin. Siapapun orangnya, kauharus melaporkan! Ingat, apa yang akan kamu lakukan ini benar. Kau bukan menfitnah!”

Suara-suara itu terus berdenging memenuhi ruang pikiranku. Ya Allah, kalau apa yang akan hamba lakukan ini benar, lindungi hamba dari hal-hal yang tidak hamba inginkan, doaku dalam hati. Walau tidak jua menghilangkan perasaan gelisah dalam hatiku.

Keesokan harinya Al-Azhar geger. Bagian keamanan organisasi menemukan beberapa puntung rokok berserakan di kamar mandi belakang asrama Abu Bakar. Semua penghuni asrama dikumpulkan, termasuk aku dan Ozy yang menghuni kamar IV. Satu persatu kami diinterogasi. Ustadz Taufik, bagian keamanan pusat yang menangani langsung kasus ini. Tapi semua santri tutup mulut. Mereka tidak ada yang melihat santri yang masuk kamar mandi tepat pada jam dua belas malam.

“Sekali lagi saya tanya, siapa di antara kalian yang melihat ada seorang santri masuk kamar mandi sebelum jam setengah satu tadi malam?” suara Ustadz Taufik mulai meninggi. Namun seperti sebelumnya semua bungkam. Tak ada yang angkat bicara. Mulut-mulut mereka seolah-olah terkunci. Aku sendiri semakin salah tingkah dan mulai gelisah. Berarti hanya aku yang melihat kejadian semalam? Pikiranku kalut. Bingung. Tak tahu apa yang harus aku lakukan.

“Kamu nggak lihat, Fir?” bisik Ozy di sampingku. Aku menoleh. Kulihat raut wajahnya biasa-biasa saja. Seolah-olah tidak ada beban masalah bersemayam dalam pikirannya. Mungkin ia mengira tidak ada yang melihatnya tadi malam.

“Mungkin ada Ustadz yang merokok di kamar mandi tadi malam. Yang boleh merokok di pesantren ini kan hanya Ustadz?” seru seseorang di pojok ruangan. Semua mata menoleh ke arah santri yang angkat bicara. Apa yang disampaikan salah seorang teman kami itu benar. Yang boleh merokok di tempat ini hanya orang yang menyandang predikat Ustadz. Yang lain tidak ada yang boleh merokok. Makanya tidak sedikit dari kami yang kadang protes karena merasa hal ini tidak adil.

“Memangnya kalian pikir para Ustadz tidak punya tempat untuk merokok? Sampai mau merokok di kamar mandi kalian?” seru Ustadz Taufik. Kami hanya diam. Setelah beberapa saat kemudian kami diperbolehkan keluar dari ruang sidang. Kali ini Ozy benar-benar selamat, pikirku. Tapi perasaan bersalah dan berdosa karena telah berbohong terus membayangi perasaanku. Aku harus melaporkan kejadian ini! Pekikku dalam hati.

***

Ba’da Isya’ aku membulatkan tekad untuk menghadap Ustadz Taufik. Lama aku berdiri di depan kamar beliau yang tidak jauh dari kantin dekat asrama itu.

“Assalamu’alaikum….” Akhirnya kuucapkan salam. Lama tidak ada jawaban, ketika samar kudengar kaki melangkah dari dalam.

“Waalaikum salam. Ada apa, Fir?” tanya ustadz Taufik seraya menyilakan aku duduk.

Ada yang ingin saya sampaikan, Ustadz.” Kataku agak gugup.

“Tentang apa?”

“Tentang kejadian semalam,”

“Kau tahu siapa yang melakukan?” tanya Ustadz Taufik dengan nada menyelidik. Aku diam beberapa saat. Sambil kuatur nafas kuceritakan semua apa yang kulihat. Ustadz Taufik tampak serius mendengar penuturanku.

“Tapi kau tidak salah lihat, kan?” kulihat ada keraguan di wajah beliau.

“Insya Allah saya tidak salah lihat. Saya benar-benar melihat Ozy keluar kamar mandi dan membawa sebungkus rokok.” Kataku meyakinkan keraguan beliau.

“Benar-benar belum kapok anak itu!” Seru Ustadz Taufik penuh sesal. Aku tahu apa yang ada dalam pikiran beliau sekarang. Berulangkali beliau menangani kasus serupa dan pelanggarnya itu-itu saja. Ozy. Ya, Ozy adalah langganan pelanggar disiplin ini. Entah sudah berapa kali rambutnya dibotak gara-gara merokok semenjak ia mondok. Membaca surat pernyataan di depan seluruh santri sudah menjadi langganannya.

Syukran atas laporan kamu. Lain kali jangan sungkan untuk melaporkan kejadian seperti ini. Kerena dengan melaporkan kejadian ini berarti kau sudah membantu melancarkan jalannya disiplin pesantren.” Akhirnya Ustadz Taufik menyilakan aku keluar.

Lega. Ya, perasaan itu yang aku rasakan setelah keluar dari ruang Ustadz Taufik.

Tapi apa yang telah aku lakukan? Aku telah melaporkan temanku sendiri. Aku telah memberikan Ozy peluang untuk segera diskorsing dari pesantren ini. Namun aku berharap pihak pesantren tidak akan mengeluarkan Ozy dari pesantren ini. Karena aku masih berharap suatu saat Ozy sadar dan mau menghentikan kebiasaan buruknya itu.

Dan Ozy benar-benar disidang. Entah bagaimana ekspresi kemarahan Ustadz Taufik saat menyidangnya. Aku tahu Ustadz Taufik penyabar. Tapi sebagai keamanan, aku tahu beliau akan bertindak tegas demi kelancaran disiplin pesantren. Kalau tidak, maka disiplin hanya akan dianggap suatu yang tidak penting. Bahkan mereka akan menginjak-injak disiplin yang diterapkan di pesantren ini.

Aku sempat terkejut saat hendak menubruk Ozy yang tiba-tiba melintas di depanku yang hendak ke kamar. Di wajahnya sempat kutangkap ada raut kekesalan dan kemarahan yang aku yakin akan dilimpahkan kepadaku.

Tapi aku sudah siap dengan apa yang akan terjadi. Selama itu tidak menginjak-injak harga diriku. Karena aku yakin apa yang aku lakukan benar. Aku tidak menfitnah Ozy. Dan tujuanku hanya satu; berharap Ozy menyadari perbuatannya yang selama ini salah. Bahwa kelakuannya di sini sudah membuat resah pengurus pesantren. Dan kalau itu dibiarkan, maka pihak pesantren tidak akan segan-segan mengeluarkannya dari tempat ini.

“Hei, Fir! Aku nggak nyangka kalau ternyata kau bermulut ember. Mulutmu tak jauh beda dengan mulut ibu-ibu RT yang suka ngerumpi, ngegosip. Ternyata kau tidak bisa menyimpan rahasia. Semula aku mengira kalau benar kau melihatku waktu itu, kau akan diam karena aku tahu kau tidak akan melakukan perbuatan yang pantas dilakukan oleh seorang pengecut itu. Tapi ternyata?” geram suara Ozy bergetar. Kulihat api kemarahan di wajahnya berkobar-kobar. Hilang sudah semua kelembutan dan keakrabannya selama ini. Berganti kata-kata kasar yang membuat emosiku juga terangsang.

“Aku hanya ingin kau bisa menghentikan kebiasaan burukmu itu, Zy. Aku tahu itu masalah pribadi kamu. Tapi kalau ini kau lakukan terus menerus, maka kamu sendiri yang susah. Kau tidak mau kan diskorsing hanya gara-gara masalah ini?” kataku mencoba menenangkan suaranya.

“Alah, persetan dengan itu semua! Dan itu tidak akan terjadi kalau tidak ada santri yang melaporkan. Sudahlah, ini urusanku. Kau tidak akan bisa membuatku alim dan penurut sepertimu. Kau ajak yang lain saja untuk mendengarkan ceramahmu. Dan sekali lagi kau tidak usah ikut campur!”

“Tapi aku kan juga temanmu, Zy?”

Ozy tergelak. Sinis.

“Teman? Jadi ini yang kauanggap pertemanan? Apa bentuk persahabatan seperti ini yang kau pertahankan?” suara Ozy kian meninggi. Beberapa pasang mata sempat menoleh ke arah kami.

“Tapi….”

“Ah! Jangan banyak bacot! Aku tidak butuh khotbah murahanmu lagi. Aku muak!” tanpa kuduga nada kasar itu keluar dari mulut Ozy. Ia melangkah meninggalkanku yang masih termangu di depan pintu. Beberapa teman kulihat menghampiriku. Sungguh, aku tidak membayangkan Ozy akan semarah itu!

***

Semenjak kejadian itu Ozy tidak lagi menyapaku. Setiap kusapa ia selalu cuek dan menghindar. Aku tahu dia marah besar. Dan kini, rambutnya yang mulai memanjang itu sudah hilang. Tak selembar rambut pun yang tersisa di batok kepalanya. Ia dibotak! Dan ini gara-gara aku! Gara-gara laporanku yang kini juga meretakkan hubungan persahabatanku.

Sesekali melintas pikiran sesal dalam pikiranku setelah kutahu semua seperti ini. Tapi perasaan itu berusaha kubuang jauh-jauh. Aku yakin suatu saat hati Ozy akan melunak. Dan tali persahabatanku dengannya akan kembali terikat. Entah kapan.

“Sudahlah, Fir. Aku tahu kau masih merasa bersalah setelah kejadian itu. Tapi aku yakin Ozy akan menyadari perbuatannya.” Kata Kak Ikbal, kakak kelasku yang setengah tahun lalu terpilih sebagai ketua bagian keamanan organisasi.

“Sebenarnya aku hanya khawatir Ozy akan diskorsing,” kilahku seraya kubuka buku pelajaran Ushul Fiqih. Kulihat kak Ikbal tersenyum.

“Aku yakin pihak pesantren tidak akan semudah itu mengeluarkan santrinya. Kecuali mungkin pelanggaran yang sifatnya syar’i seperti mencuri atau pacaran.” Aku coba menyimak kata-kata Kak Ikbal dengan baik. “Kalau dia diskorsing, aku belum yakin kalau dia akan sembuh seratus persen. Bahkan aku khawatir kebiasaannya akan semakin menjadi-jadi. Makanya kami selaku pengurus berusaha untuk menyadarkan mereka sebelum benar-benar di-DO dari pesantren.”

Bel berdentang pertanda belajar malam sudah dimulai. Aku segera ke aula untuk belajar bersama teman-teman sekelas. Semua santri kulihat tampak berhamburan keluar kamar menuju masjid, aula dan tempat belajar yang lain.

“Selamat belajar, ya.” Ujar Kak Ikbal seraya beranjak dari tempat duduknya. Sebenarnya aku masih betah dan ingin sekali berbincang-bincang bersama Kak Ikbal yang selalu memotivasiku. Menurutku Kak Ikbal lah sosok pengurus yang patut dicontoh. Perangainya yang baik membuat para santri tidak sungkan untuk konsultasi. Ia termasuk pengurus yang disegani, beda dengan pengurus lain yang kebanyakan ditakuti karena sikap dan tampangnya yang sok bijak dan jutek di depan santri.

***

Al-Azhar kembali geger. Tapi kali ini bukan karena ditemukannya puntung rokok seperti kejadian sebelumnya. Tiga orang bulis malam menemukan aku terbaring pingsan di kamar mandi. Aku juga baru sadar saat beberapa orang mengerumuniku di Unit Kesehatan As-Syifa milik pesantren.

Kata Parman, teman dekatku, pipiku lebam dan leher belakangku juga luka akibat pukulan. Semua menanyaiku. Semua menginterogasiku. Tapi aku tidak bisa menjawab apa-apa. Seingatku, sebelum keluar dari kamar mandi tadi malam aku sempat mendengar bisikan-bisikan mencurigakan di luar. Aku hanya berusaha tenang. Sehingga saat aku membuka pintu, sebuah pukulan telak mengenai punggung dan sekujur tubuhku. Tidak sempat kulihat wajah dua orang itu karena mareka menggunakan kain sarung untuk menutupi wajah mereka. Dan waktu itu aku tidak ingat apa-apa.

Semua penghuni Al-Azhar panik. Karena ini kasus langka yang terjadi di pesantren. Kalau kasus perkelahian antara dua orang atau antar beberapa kelompok santri sering terjadi. Tapi kejadian seperti yang menimpaku seingatku baru kali ini.

“Apa mungkin ini ulah Ozy?” Parman tampak curiga. Di antara teman-temanku, hanya dia yang tahu masalahku dengan Ozy. Tapi aku tidak yakin. Aku tahu siapa Ozy. Ia tidak akan melakukan hal ini kepadaku.

“Ah, kupikir nggak mungkin, Man. Ia tidak mungkin melakukan ini.” Aku berusaha menepis kecurigaan yang bercokol di benak Parman. Parman hanya memandangku iba.

“Tapi ini sangat mungkin ada kaitannya dengan apa yang terjadi antara kamu dan Ozy, Fir.” Bisik Parman. Mungkin ia khawatir ada orang yang mendengar pembicaraan kami.

“Entahlah, yang jelas aku tidak punya bukti. Kita tidak bisa menuduh seseorang tanpa ada bukti yang kuat. Karena aku tidak melihat wajah mereka saat kejadian.”

“Tapi kau pasti ingat kan ciri-ciri mereka?”

“Sudahlah, Man. Aku tidak ingin memperpanjang masalah. Mungkin ini memang nasib naasku. Lain kali aku akan hati-hati.”

Parman mendesah perlahan. Aku tahu ia kecewa dengan apa yang aku sampaikan.

***

Dan waktu pun berlalu. Hari-hari Ozy kian hari kian kelabu. Keangkuhannya dulu kini tak terlihat lagi. Tubuhnya kian menirus. Matanya cekung. Desah nafasnya sangat mengerikan. Mungkin akibat saluran pernafasannya yang mulai terganggu.

Kami sempat tidak percaya mendengar vonis dokter Herman yang menangani Ozy. Ozy mengalami serangan jantung pada stadium lanjut. Dokter Herman memberikan kami rekomendasi agar Ozy dirujuk ke RSUD Pamekasan karena sarana di RSUD Sumenep belum memadai.

Kami pun sepakat membawa Ozy ke RSUD Pamekesan. Namun sekitar seperempat jam perjalanan ke Pamekasan, detak jantung di dada Ozy tidak terlihat lagi. Denyut nadinya tak lagi berfungsi. Nyawanya tidak dapat tertolong lagi.

Innalillahi wainna lillahi raajiun. Serempak dalam mobil kami mengucapkan kalimat istirja’ itu. Tanpa terasa mataku berkaca-kaca. Kelopak mataku memanas melihat wajah Ozy tak dibalut senyum lagi.

* * *

Sumenep. 07 April 2005

*) Untuk adik-adik di PPMU; kenakalan2 kalian adalah hal yang lumrah…Tetep semangat ngejalanin disiplin, ya!

Cari Jodoh

08.17 / Diposting oleh untung wahyudi / komentar (0)

Ba’da shalat jum’at….

Sudah hampir satu jam aku selonjoran di teras masjid Miftahul Amal, salah satu masjid di kampungku. Mataku tak lepas memandangi hamparan padi yang menghijau di pematang-pematang sawah sekitar masjid. Berulangkali aku merusaha menenangkan perasaanku, tapi berkali-kali pula aku gagal. Aku masih ingat kata-kata Emak yang tanpa sadar mampu menohok ulu hatiku, perasaanku.

“Umurmu sudah dua lima, Man. Kapan kau akan mengakhiri masa lajangmu? Apa kau menunggu sampai Emak sangat tua, begitu? Lalu kapan kau akan membawakan Emak seorang menantu yang kelak akan memberikan Emak seorang cucu?”

Aku hanya mampu diam menunduk mendengar kata-kata Emak. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutku untuk menanggapi ucapan Emak. Aku sadar, umurku sudah cukup untuk mengakhiri masa lajangku. Untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang juga sunnah Rasul itu. Tapi entah kenapa aku merasa belum siap untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang menurutku sangat berat itu.

“Mak, Parman pikir tuanya usia belum tentu menjamin kesiapan seseorang untuk menikah. Emak tahu sendiri kan sepupu-sepupu Parman yang sudah lebih tua dari Parman belum pada menikah. Parman yakin mereka belum siap lahir batin, Mak. Parman juga belum siap.” Aku mencoba membela diri. Walau jauh di dasar hatiku membenarkan perkataan Emak. Aku paham perasaan Emak. Sudah hampir sepuluh tahun Emak hidup sendirian semenjak Bapak meninggal. Beliau pasti butuh teman untuk membantu kesibukan di rumah. Atau Emak khawatir kalau aku lama membujang?

“Ingat, Man. Hidup sendirian dalam keadaan membujang itu banyak godaan. Kamu tahu sendiri kan apa yang terjadi pada Badrun, tetangga sebelah itu. Ia ‘diciduk’ aparat desa karena ketahuan bertamu sampai larut malam di rumah Lastri yang lama menjanda itu. Demi keamanan dan ketertiban kampung, akhirnya Badrun ‘dipaksa’ menikah dengan Lastri.” Ujar Emak seolah-olah tahu jalan pikiranku.

“Kok jadi ngerasanin orang sih, Mak?”

“Itu contoh. Agar dibuat pelajaran bagi pemuda-pemuda di kampung ini. Emak khawatir kamu nggak kuat iman.” Jawab Emak.

Naudzubillah, Mak. Sepuluh turunan semoga nggak menimpa anggota keluarga kita. Malu, Mak….”

“Nah, makanya buruan sono cari calon tunangan.” Ujar Emak sembari tersenyum. Aku ikut-ikutan tersenyum. Ah, Emak. Doakan Parman, Mak. Moga-moga Parman cepet-cepet dapet jodoh.

09 Januari 2005

Menikah. Kata itu yang kini melekat dalam benakku. Di rumah, ladang, masjid dan semua tempat yang sering aku singgahi kata itu selalu membuntutiku. Aku tahu, menikah adalah hal yang mutlak bagi semua manusia. Tak ada seorang pun di dunia ini yang akan betah hidup sendirian. Tapi aku? Ah, aku semakin pusing saja mengingat masalah ini. Aku sadar kalau aku juga ingin seperti semua orang pada umumnya. Menikah dan punya anak. Alangkah bahagianya seseorang yang sudah melaksanakan separuh dien-nya itu. Juga betapa damainya saat bercengkrama bersama seorang istri dan anak-anak yang menambah suasana kebahagiaan keluarga.

“Terus apa yang masih kamu tunggu, Man?” tanya Ipul, salah seorang temanku yang kini sudah punya momongan. Ipul memang salah seorang temanku yang menikah muda. Dulu saat ia memutuskan untuk menikah aku sempat tidak percaya. Umurnya waktu itu masih dua puluh tahun. Sama denganku. Aku sempat berpikir, apakah Ipul yang masih muda itu siap hidup berumah tangga?

“Aku hanya merasa kalau aku belum siap, Pul. Aku masih belum kuat mental untuk urusan ini. Tapi aku akan berusaha supaya cepat dapat pasangan.”

“Nah, gitu, Man. Jangan hanya berpangku tangan dan mengharap ada bidadari kesasar yang tiba-tiba menghampiri kamu. Doa dan usaha gitu. Kalau masalah siap nggak siap, kita pasti selalu bilang nggak siap. Tapi sampai kapan?” Ujar Ipul. Aku hanya mengangguk-angguk. Membenarkan apa yang disampaikan Ipul.

“Kamu benar, Pul. Selama ini aku selalu minder dan takut kalau aku nggak bisa nyenengin istri. Gimana mau seneng kalau masih belum punya pekerjaan tetap.” Ujarku mencoba mengutarakan apa yang selalu mengganjal dalam hatiku.

“Eh, Man. Ternyata kamu masih ragu toh dengan rejeki Gusti Allah? Sadar, Man kalau rejeki Allah itu Mahaluas. Kita harus yakin itu. Sekarang kita jangan berpikir untuk dapat pekerjaan tetap. Yang penting bagaimana supaya kita tetap bekerja….” Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Apa yang disampaikan temanku itu benar. Ternyata keraguan dan kegamangan hati itu lah yang menyebabkan aku seperti ini. Yang selalu membuat aku ‘takut jatuh cinta’ dan takut manikah.

15 Januari 2005

Semakin hari perasaanku semakin tidak tenang saja. Kekhawatiran Emak selalu menghantui perasaanku. Kalau kupikir dan kurenungkan, kekhawatiran Emak sangat benar. Bahkan fenomena sosial tentang perempuan hamil di luar nikah dan laki-laki yang lari dari tanggung jawab sudah bukan hal yang tabu lagi. Kupikir fenomena ini tidak hanya terjadi di dunia selebritis yang penuh glamour dan pergaulannya yang sangat bebas. Di desa-desa yang jauh dari hiru-pikuk metropolitan ternyata juga terjadi hal serupa. Lalu apa yang akan terjadi kalau fenomena ini membudaya dan mengakar di masyarakat dan diikuti oleh generasi mendatang?

Dan yang paling memperihatinkan, baru-baru ini di televisi ada seorang artis yang sampai anak di kandungannya lahir belum juga ada seorang laki-laki yang mau mengakuinya sebagai anak. Si artis pun memilih tutup mulut dan tidak mau menyebutkan siapa sebenarnya yang berhak menjadi ayah dari buah hatinya itu.

Aku jadi semakin takut dan khawatir. Karena kadar keimananku tidak setebal iman para Abid yang selalu meningkatkan keimanannya. Aku takut suatu saat kalah dengan godaan setan yang setiap saat selalu mengintai dan mencari celah kelengahanku. Allah, lindungi hamba dari godaan setan yang terkutuk…

20 Januari 2005

Tadi malam habis maghrib aku nyabis ke kediaman ustadz Marzuki, guru ngajiku dulu waktu kecil. Lama aku nggak sowan dengan beliau. Rasanya aku sudah kangen dengan suasana surau yang dulu menjadi tempat belajarku, menghapal juz Amma dan bersenda gurau dengan teman-teman selepas pengajian. Tanpa aku sadar beliau pun menyinggung tentang pernikahan. Beliau juga bercerita tentang pernikahan Habib, putranya yang baru menikah sebelum Ramadhan kemarin.

“Sepertinya Habib baru bertunangan, Ustadz?” ucapku saat beliau cerita perihal pernikahan putra beliau.

“Itu benar, Man. Sebelumnya memang belum ada rencana untuk menikahkan Habib. Dan saya yakin Habib masih belum yakin dengan apa yang sedang dihadapinya sekarang.”

“Memangnya kenapa, Ustadz?” tanyaku penasaran.

“Sebenarnya begini. Sebulan sebelum Ramadhan Habib ke rumah mertuanya. Katanya sudah cukup lama nggak ke sana. Sore hari saat saya datang dari pasar, Habib datang bersama seseorang yang diboncengnya. Dan saya belum percaya kalau ternyata ia datang dengan tunangannya. Saya marah besar waktu itu. Walau bagaimana pun pertunangan itu belum bisa melegalkan siapapun untuk diam berdua, jalan berdua apalagi sampai boncengan seperti itu. Saya coba peringatkan ia supaya nggak mengulanginya lagi. Tapi ia tidak menggubris. Daripada tersebar fitnah macam-macam terhadap anak saya, akhirnya saya menikahkannya supaya lebih sah dan apa yang dilakukannya menjadi halal.” Ustadz Marzuki cerita panjang lebar. Aku baru paham, ternyata walaupun resmi menjadi sepasang tunangan itu masih belum bisa boncengan.

Tapi yang terjadi di kampungku? Ah, sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah dan biasa sepasang tunangan saling berkunjung dan boncengan saat hari raya. Bahkan di kampungku ini ada orang tua yang memarahi anaknya kalau nggak mau diajak tunangannya jalan-jalan atau berkunjung ke kerabat dekat. Semoga saja para orang tua sadar kalau apa yang dilakukan anak-anaknya yang sudah bertunangan itu salah dan melanggar aturan syariah agama Islam. Kalau itu sudah menjadi budaya, lalu apa bedanya antara pertunangan dengan pacaran?

20 Januari 2005

Sore ini Ipul menemuiku di ladang saat ia datang dari pasar. Ladang tempatku bercocok tanam memang dekat dengan jalan setapak yang berhubungan dengan jalan utama desa. Aku jadi bertanya-tanya, mau apa dia menemuiku di ladang ini?

“Gimana, Man? Sudah sukses belum?”

Ah, itu lagi, itu lagi. Apa nggak ada topik lain?

“Kok diem, Man?’

“Eh, iya, be… belum ada.” Aku nyengir seraya membersihkan cangkul yang penuh tanah dengan sebilah kayu.

Diam sesaat, lalu Ipul berkata lagi.

“Gini, Man. Minggu kemarin aku ketemu Khadijah, anak tetangga sebelah itu. Itu lho anaknya Pak Ibrohim yang punya somil kayu dekat pasar. Wah, kayaknya dia cocok jadi calon pendampingmu, Man.”

“Eh, jangan ngaco kamu, Pul. Anaknya Pak Ibrohim yang kuliah di WIRARAJA itu? Mana mau sama aku yang hanya lulusan SMA ini. Aku kan nggak punya titel, Pul?”

“Parman…. Parman. Kamu dikasih jalan terang kok bukan bersyukur. Coba dong ajak dia berkomunikasi. Siapa tahu dia juga nyimpan perasaan sama kamu.”

“Kalau dia sudah punya pacar?”

“Aduh, belum apa-apa sudah keok duluan. Kamu itu laki-laki. Harus berani dan siap kalau ternyata dia sudah punya calon pasangan.”

Aku diam. Apa kata Ipul benar juga. Jodoh itu harus dijemput, bukan ditunggu.

Akhir Januari 2005

Atas saran Ipul, akhirnya kemarin aku menemui Khadijah di rumahnya. Pak Ibrohim juga bincang-bincang denganku, walau hanya sebentar.

Aku sempat gugup, ternyata Khadijah juga pendiem. Orangnya jarang ngomong. Dan ternyata dia belum punya calon. Walau sebenarnya sudah cukup banyak orang yang datang menemui Pak Ibrohim untuk melamar Khadijah. Tapi katanya, Pak Ibrohim selalu menolak dengan alasan kalau Mbaknya Khadijah yang kuliah di Surabaya belum ada yang melamar. Ternyata Pak Ibrohim masih percaya mitos kalau anak bungsunya menikah terlebih dulu, anak sulungnya bakal lama untuk mendapatkan jodoh. Ah, kata Ustadz Marzuki dulu saat aku ikut pengajian, mitos itu sama sekali tidak benar dan tidak ada dalam aturan agama. Kata beliau, menyitir sebuah hadist Rasul, bagi seorang pemuda yang sudah siap menikah, maka dianjurkan untuk segera menikah. Karena menikah dapat menjaga pandangan dan lebih menjaga kehormatan.

07 Pebruari 2005

Tadi malam, Paman Usman ke rumah orang tua Khadijah. Atas dasar restu Emak, akhirnya paman Usman mau meminta Khadijah sebagai calon tunanganku. Semula paman juga khawatir kalau Pak Ibrohim akan menolak seperti yang terjadi pada orang yang pernah datang dan mau melamar Khadijah. Tapi ternyata….

“Man, kayaknya kamu harus bersabar….”

Deg!! Jantungku tiba-tiba saja berdetak tak beraturan mendengar perkataan paman. Tanpa harus meneruskan pembicaraannya aku sudah bisa menebak kalau aku ditolak. Aku hanya diam. Berusaha menenangkan perasaan.

“Pak Ibrohim memberi paman waktu supaya menunggu sampai ada kabar dari Marni, kakak Khadijah. Kalau dalam waktu sebulan tidak ada kabar, maka paman dan Pak Ibrohim kembali akan membahas masalah kamu ini….”

Aku tersentak kaget. Seolah-olah belum percaya dengan apa yang dikatakan paman.

Jadi….? Aku masih punya harapan? Tapi bagaimana kalau Marni juga percaya mitos itu…?

* * *

Sumenep, Pebruari 2005

Sepatu untuk Rama

08.15 / Diposting oleh untung wahyudi / komentar (0)

Hari sabtu seperti biasa kegiatan murid-murid SDI Ar-Rahman adalah olah raga. Setelah senam bersama Pak Wahyu menguji kekuatan fisik murid-muridnya dengan berlari di halaman sekolah. Siapa yang lebih cepat menyentuh garis finish, maka dia akan mendapat hadiah sebuah bola. Murid-murid Ar-Rahman tampak sangat senang dan antusias sekali untuk mengikuti tes kecepatan berlari itu. Mereka sudah tidak sabar ingin bertanding guna memperebutkan hadiah dari Pak Wahyu

Untuk babak pertama adalah terdiri dari lima murid. Mereka adalah Fardan, Faiz, Ilham, Iqbal dan Rama. Mereka berlima sudah bersiap-siap di garis start.

“Satu…dua…tiga…PRIIIT…!!!”

Mendengar aba-aba dari Pak Wahyu, mereka berlima langsung lari sekencang-kencangnya. Seperti pacuan karapan sapi yang biasa dilaksanakan di lapangan Stadion Giling Sumenep. Rama yang memiliki tubuh paling kecil itu berada di urutan depan, namun sekitar tiga meter sebelum garis finish Rama terjatuh. Dia mengeluh kesakitan sambil memegangi kakinya yang sedikit berdarah.

Murid-murid yang waktu itu sibuk menyemangati tiba-tiba semua menuju tempat Rama terjatuh.

“Kamu nggak apa-apa, Rama?” Tanya Faiz yang tadi berada tepat di belakang Rama. “Wah, kaki kamu terluka?!” seru Faiz tiba-tiba begitu melihat darah di telapak kaki Rama. Pak Wahyu sibuk mengolesi kaki Rama yang terluka dengan betadin.

Murid-murid yang lain mulai bubar. Ada yang ke kantin, ada juga yang masih santai-santai di taman sekolah.

Faiz menghampiri Rama yang kakinya kini berbalut perban.

“Masih sakit, Ram?” Tanya Faiz perhatian.

“Alhamdulillah, sudah lumayan.”

“Kok bisa sih sampai kena kerikil, padahal kamu kan pake sepatu dan kaos kaki?”

Rama terdiam mendengar pertanyaan terakhir Faiz. Wajahnya tampak murung. Faiz heran dan menggeser duduknya mendekati Rama.

“Kamu kenapa, Ram?”

“Sepatuku berlubang, Iz. Maklum ini kan sepatu kakakku waktu TK dulu. Kaos kakiku juga bolong-bolong.”

“Maaf, Ram. Aku nggak bermaksud membuatmu sedih.”

Nggak apa-apa, kok.”

Setelah cukup lama bincang-bincang Rama pamitan kepada Faiz untuk ke kantin karena rasa haus sudah mulai menyerang tenggorokannya. Rama langsung menuju kantin sementara Faiz masih duduk di tempatnya. Memikirkan nasib sepatu Rama yang bolong-bolong. Pasti dia butuh sepatu baru agar kakinya tidak terluka lagi, bisik hati Faiz.

***

Pagi hari di rumah Faiz.

Setelah memakai baju seragam Faiz menuju rak sepatu yang berada di pojok kamarnya. Dihitungnya jumlah sepatu koleksinya yang berjejer rapi itu. Ada empat pasang sepatu miliknya. Ia tiba-tiba ingat Rama yang kemarin kakinya terluka gara-gara sepatunya rusak. Tanpa pikir panjang dibungkusnya salah satu sepatu kesayangannya itu dan memasukkannya ke dalam tas sekolah. Beberapa saat kemudian ia langsung menuju meja makan untuk sarapan bersama keluarga. Di sana sudah ada Faisal, kakaknya yang sekarang kelas 3 SMP dan juga kedua orang tuanya.

“Makan yang banyak, Iz, biar cepet gede….” Seru Faisal yang porsi makannya lumayan banyak, sesuai dengan badannya yang juga mulai tinggi besar. Maklum kakaknya itu sudah mulai memasuki masa puber.

“Ah, nggak mau, ah. Nanti kayak Boboho…” Faiz nyengir sembari memasang nasi ke piringnya. Papa dan mama di seberang meja hanya tersenyum melihat tingkah kedua buah hatinya itu.

“Kalian harus sama-sama makan yang banyak. Tapi inget belajarnya juga harus yang giat biar jadi anak yang pintar….”

***

Lima belas menit lagi bel masuk kelas berdentang. Faiz sudah tidak sabar menunggu Rama datang. Ia ingin memberi kejutan buat teman sebangkunya itu. Lima menit menunggu akhirnya Rama muncul juga. Jalannya tampak sedikit beda, mungkin karena bekas luka waktu jatuh kemarin itu.

“Ram, ini buat kamu…” Faiz langsung menyodorkan bungkusan di tangannya begitu Rama tiba di depannya. Rama agak sedikit terkejut melihat bungkusan itu.

“Apa ini, Iz?”

“Dibuka aja, deh. Moga kamu suka menerimanya.”

Tidak sabar Rama langsung membuka bungkusan dari Faiz itu. Dan seperti yang Faiz duga, kedua bola mata Rama terbelalak saking terkejutnya melihat isi bungkusan itu.

“Wah…?? Sepatu? Ini untuk aku, Iz?” Tanya Rama setengah tidak percaya. Faiz mengangguk meyakinkan keraguan Rama.

“Terima kasih, Iz. Kamu memang temanku yang sangat perhatian. Aku seneng sekali hari ini…”

Faiz senang melihat Rama begitu gembira menerima hadiah pemberian darinya. “Sama-sama, Ram. Semoga dengan sepatu itu kaki kamu nggak akan kena kerikil lagi kayak kemarin.”

Rama dan Faiz langsung menuju kelas setelah mendengar bel masuk berbunyi.

***

Surabaya, 29 Maret 2009

Akulah Penjahat Cinta

07.18 / Diposting oleh untung wahyudi / komentar (0)

Kalau seandainya di dunia ini ada pengadilan cinta, mungkin akulah orang pertama yang akan diseret ke dalamnya. Karena akulah penjahat cinta. Yang telah menghancurkan cinta sepasang cinta. Yang telah meluluhlantakkan hati wanita karena pasangan hidupnya mengingkari cintanya. Akulah penjahat paling kejam di dunia. Entah berapa pasang suami-istri yang telah kuhancurkan. Juga berapa janin yang kubunuh karena aku tak sanggup melahirkannya ke dunia. Menjadikannya seorang anak yang mungkin akan berbakti kepada orang tua. Karena memang untuk apa aku melahirkannya kalau tak ada seorang pun yang akan mengakuinya sebagai seorang anak? Kalau tak ada seorang lelaki pun yang bersedia menjadi seorang ayah?

Ya, aku telah menghancurkan kehidupan mereka, kebahagiaan mereka, keharmonisan mereka yang diharapkan oleh semua manusia di dunia. Tapi aku punya alasan mengapa melakukannya. Mengapa aku menjual cinta, bahkan menjajanya saat tak ada yang bersedia membelinya. Sekali lagi aku punya alasan.

Tapi kalau pengadilan cinta itu benar-benar ada, orang kedua –setelah aku- yang akan kuseret dan kugugat adalah “dia”. Seorang makhluk bernama “lelaki” yang telah menyebabkan hidupku seperti ini. Yang telah mengantarkanku ke lembah hitam penuh dosa ini. Ya, aku akan menggugat dan menyeretnya karena dialah orang pertama yang mengenalkan aku dengan aborsi, yang telah “menobatkan” aku sebagai; penjaja cinta!

* * *

Malam gelap. Hanya ada beberapa pendar cahaya yang berpendar di sekitar. Sepi. Malam makin pekat dan larut dalam sunyi yang kian mencekam, ketika seluruh penghuni komplek terlelap dalam mimpi indah mereka masing-masing. Rasa takut dan gelisah berbaur menjadi satu. Menciptakan suasana seram yang mencekam. Kelam. Hitam.

Entah ini malam apa. Aku tak peduli. Karena aku tak pernah menghitung malam, juga hari sebagaimana aku tak pernah menghitung hasil jerih payahku. Aku tak pernah tahu berapa lembar uang yang kuhasilkan setiap malam. Karena tugasku hanya bekerja. Melayani para tamu hidung belang yang rela menghamburkan lembaran ratusan ribu demi seteguk kenikmatan.

“Kau belum bersiap-siap, Mar?” sebuah suara mengagetkanku. Membuyarkan segumpal lamunan yang aku ciptakan.

“Kepalaku pusing malam ini. Aku demam. Aku tidak bisa beroperasi malam ini.” Jawabku sekenanya. Ada raut kekesalan di wajah wanita menor di hadapanku itu. Aku tahu, ia akan marah, atau akan melaporkan ke “atasan” yang memperkerjakan kami di lokalisasi ini.

“Apa katamu…? Pusing? Ah, jangan macam-macam, Mar. Kalau ketahuan kau pasti akan dimarahi, dijambak, bahkan bakal dihajar olehnya. Kau mau nasibmu seperti Lastri seminggu yang lalu?”

Aku tersentak. Wajahku mendadak pucat. Rasa takut berkelebat. Kalau ingat kejadian malam itu aku ngeri. Tubuh Lastri babak belur. Bibirnya berdarah. Pipinya lebam akibat tamparan yang sangat keras. Punggungnya nyaris hancur. Hanya kerana satu alasan; ingin berhenti dari pekerjaannya. Mungkin ia bosan atau memang tidak menyukai pekerjaannya. Ia ingin pulang. Ia tidak betah diperlakukan seperti binatang. Semenjak kedatangannya sebulan yang lalu, kulihat ia memang sering murung. Menyendiri dan matanya selalu sembab. Melamun. Mungkin ingat orang tuanya di kampung.

“Mbak, aku tidak mau bekerja seperti ini. Aku ingin bekerja yang halal. Kedatanganku ke kota ini bukan untuk menjadi wanita penghibur. Aku ingin membantu Emak di kampung. Aku ingin uang yang bersih dan halal.” Rengeknya kepadaku waktu itu. Aku hanya memandangnya dengan iba. Kupikir ia hanya satu di antara puluhan atau bahkan ratusan calon tenaga kerja yang dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab di kota ini. Beda denganku yang bekerja karena memang terdesak keadaan, juga kemiskinan yang mendera yang telah menyebabkan aku terjun ke dunia hitam.

“Gimana, kau mau nasibmu seperti Lastri?” suara salah seorang rekanku itu kembali mengagetkanku. Aku hanya diam. Membisu. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutku.

“Ya, sudah. Kalau kau benar-benar tidak sehat, biar aku bilang kalau kau memang sedang sakit. Tapi besok malam kau harus sudah sembuh. Aku berangkat dulu….” Ucapnya lagi seraya berlalu dari hadapanku. Lagi-lagi aku hanya diam. Entah, tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang menyenyak-nyentak perasaanku. Tuhan, maafkan aku. Bisikku lirih. Selirih desah risau angin malam yang menyapu rambut dan menggigit-gigit tulang-belulangku.

* * *

Ramadhan tiba. Banyak orang bahagia saat bulan penuh berkah itu datang. Tapi tidak denganku. Bahkan aku selalu berharap bulan ini tidak ada dalam daftar tahun Hijriyah. Karena kalau bulan ini datang menjelang, maka aku akan kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Kemana aku harus mencari uang kalau tempat ini ditutup? Atau kemana kami harus berteduh kalau bangunan ini dihancurkan karena ketahuan masih buka di bulan Ramadhan?

Aku tidak bisa membayangkan kalau tempat ini benar-benar dihancurkan oleh orang-orang yang “sok suci” itu. Dengan dalih penertiban, menghormati bulan Ramadhan, mereka dengan paksa akan menutup tempat-tempat hiburan, diskotek, pub, bar juga bangunan yang menampung puluhan wanita tuna susila ini.

* * *

Perasaan takut tiba-tiba menyelimuti perasaanku. Seolah-olah sebuah firasat tidak baik menyapaku. Entah apa yang akan terjadi. Padahal aku belum pernah merasa khawatir dan takut seperti malam ini.

Seperti biasa malam ini tampak sepi, ketika suara-suara gaduh memenuhi luar bangunan yang aku tempati. Kucoba mengintip dari balik jendela. Ada beberapa orang berkerumun di luar sana. Jumlah mereka cukup banyak. Di tangan mereka ada benda tajam, bambu, juga balok kayu. Apa mau mereka? Apa yang akan mereka lakukan?

Aku mengkeret ke sudut kamar. Bersembunyi bersama rasa takut yang menyelimut ketika suara pecahan kaca tiba-tiba menukik pendengaranku. Orang-orang itu melemparkan batu. Mereka merangsek, mendekat ke arah bangunan yang tampak gelap ini. Entah kenapa, seluruh penerang rumah ini padam seketika.

“Ayo keluar…!! Kalau tidak, akan kami bakar tempat ini.” Suara mereka memecah malam. Aku menepi ke sudut kamar. Entah kemana teman-temanku. Mereka tidak ada di tempat ini. Apa mereka sudah lari dari pintu belakang?

Aku coba untuk bangkit. Bersembunyi di balik jendela yang kacanya sudah berantakan saat sebuah benda keras tiba-tiba melesat dan menghantam batok kepalaku. Rasa pusing kurasakan bersama rembesan darah yang mulai mengalir, membasahi pipi, baju dan sekujur tubuhku. Semua tiba-tiba berubah menjadi gelap.

***

Sumenep, 28 Januari 2005